DaerahNasional

KH. Basori Alwi Dukung Ponpes Lirboyo Kediri menjadi Tuan Rumah Muktamar NU 2026.

​Kediri (wartakediri.com)

Calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, yang rencananya digelar tanggal 1-5 Agustus 2926, belum ditentukan. Ada 5 lokasi Muktamar NU yaitu Sumatra Barat, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur dan NTB.

Dari lima provinsi yang masuk dalam radar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jawa Timur, khususnya Ponpes Lirboyo, Kediri, menjadi salah satu kandidat kuat yang paling diunggulkan.

​Suara dukungan pun terus mengalir dari akar rumput, termasuk dari para pengasuh pondok pesantren di daerah. Salah satunya datang dari KH Basori Alwi, Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad, Dusun Kaliawen Timur, Desa Ngino, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri.

​Gus Bas, begitu sapaan akrab KH Basori Alwi itu, menyatakan dukungannya jika hajatan akbar warga Nahdliyin tersebut digelar di Jawa Timur, khususnya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri.

Menurut Gus Bas, Ponpes Lirboyo bukan sekadar pesantren besar. Ada ikatan batin dan sejarah yang teramat kuat antara Ponpes Lirboyo dengan garis perjuangan Nahdlatul Ulama.

​”Alhamdulillah, kalau kita sudah diberikan wacana itu oleh PBNU, maka kami dari Pondok Pesantren Roudhotul Ibaad sangat mendukung diletakkan di Jawa Timur. Harapan kita, didukung lagi untuk ditempatkan di Lirboyo,”ucap Gus Bas, Jumat (3/6/2026).

​Saat ditanya mengenai alasan mendasar di balik dukungannya, ia menjelaskan adanya faktor historis dan kultural yang kuat.
​”Karena Pondok Lirboyo ini pondok besar yang sangat mencintai NU. Benar-benar memperjuangkan NU. Selain itu, mayoritas pengurus PCNU hingga pengurus ranting NU di seluruh Indonesia ini banyak yang alumni Lirboyo. Jadi, ini bisa menjadi momentum silaturahmi akbar bagi mereka untuk kembali ke pondok,” tambahnya.

​Ia juga menambahkan bahwa bagi pesantren-pesantren kecil seperti yang diasuhnya, keputusan para masayikh Lirboyo maupun Ploso selalu menjadi rujukan utama. “Kami sangat sam’an wa tho’atan (mendengar dan patuh),” tuturnya.

​Sudah menjadi rahasia umum adanya mitos atau kepercayaan lama yang menyebut bahwa Kediri “kurang ramah” atau dihindari oleh presiden maupun pejabat tinggi negara karena kekhawatiran akan lengser dari jabatan.

Menanggapi hal itu, Gus Bas mendukung wacana acara pembukaan tidak Lirboyo, tapi pelaksanaan tetap di Ponpes Lirboyo. Menurutnya, kekhawatiran tersebut tidak harus menjadi penghalang jalannya Muktamar NU di Kediri.

​”Kalau menurut saya, solusinya adalah pembukaan Muktamar bisa diletakkan di kabupaten sekitar Kediri. Boleh di Jombang, Blitar, atau kabupaten terdekat lainnya. Itu tidak apa-apa,”kata Gus Bas.

​Dengan strategi tersebut, lanjutnya, prosesi seremonial pembukaan yang melibatkan pejabat negara tetap berjalan lancar di luar wilayah Kediri, sementara seluruh rangkaian persidangan dan inti kegiatan Muktamar tetap bisa dilaksanakan di Lirboyo.

​Masih menurut Gus Bas,
selain faktor historis dan kultural, kesiapan infrastruktur juga menjadi poin krusial mengapa Kediri layak menjadi tuan rumah. Gus Bas menilai Lirboyo dan wilayah Kediri secara umum sudah sangat siap dari segi fasilitas publik.

​”Fasilitasnya sangat mumpuni untuk Lirboyo. Ini pondok besar. Mulai dari akses bandara (Bandara Dhoho Kediri), jalan besar, hingga fasilitas umum lainnya sangat siap dan memudahkan para peserta dari berbagai daerah,”ucapnya.

​Ditegaskan Gus Bas, kombinasi antara kematangan infrastruktur modern di Kediri dan karisma kultural Pondok Pesantren Lirboyo, dinilai menjadi modal yang lebih dari cukup untuk menyukseskan gelaran Muktamar NU mendatang. (wk-1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *