Bandara Internasional Dhoho Kediri Diproyeksikan Menjadi Embarkasi Haji Tahun 2027.
Kediri (wartakediri.com)
Bandara Internasional Dhoho Kediri diproyeksikan menjadi salah satu embarkasi haji pada tahun 2027 mendatang. Meski begitu penambahan embarkasi baru harus benar-benar memperhatikan aspek kenyamanan, keamanan, serta efisiensi pelayanan.
Hal itu disampaikan Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan Bandara Internasional Dhoho Kediri sebagai Embarkasi Haji yang digelar di Asrama Haji Kelas I Surabaya, Rabu (1/7/2026). Rapat koordinasi tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Kediri, Otoritas Bandara Wilayah Surabaya, dan para pemangku kepentingan terkait.
“Kesiapan sarana prasarana, SDM, regulasi, hingga simulasi operasional menjadi hal penting sebelum embarkasi baru mulai dioperasikan,”tegas Gus Irfan sapaan akrab Menhaj tersebut.
Menurut Gus Irfan, persiapan penyelenggaraan haji harus dilakukan jauh sebelum musim haji dimulai agar setiap kebijakan benar-benar memberikan manfaat bagi jemaah.
“Semua kebijakan yang kita ambil harus berorientasi pada kemaslahatan jemaah dan efisiensi penyelenggaraan haji,” tegas Menhaj.
Masih Menurut Menhaj, pengembangan embarkasi baru bukan sekadar menambah fasilitas, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun sistem pelayanan haji yang semakin berkualitas.
“Yang kita bangun bukan hanya fasilitas, tetapi sistem pelayanan haji yang semakin baik. Seluruh persiapan harus dilakukan secara matang agar penyelenggaraan haji 2027 menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, lebih efisien, dan semakin berpihak kepada jemaah,”tandan Menhaj.
Dalam rapat tersebut, Direktur Jenderal Pelayanan Haji, Ian Heriyawan, memaparkan hasil pembahasan awal mengenai potensi Bandara Internasional Dhoho sebagai embarkasi haji baru.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mencari alternatif operasional yang lebih efisien. Saat ini, lanjut Dirjen Pelayanan Haji, penerbangan haji Embarkasi Surabaya masih menghadapi tantangan karena Bandara Juanda belum dapat melayani pesawat berbadan lebar Boeing 777-300.
Akibatnya, penerbangan masih menggunakan Airbus A330-300 yang memerlukan technical landing untuk pengisian bahan bakar saat keberangkatan maupun kepulangan sehingga berdampak pada meningkatnya biaya operasional.
“Bandara Dhoho memiliki potensi menjadi embarkasi haji baru. Namun, seluruh aspek pendukung harus dipastikan siap agar pelayanan kepada jemaah dapat berjalan optimal,” jelas Ian.
Sementara itu, Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Timur, Mohammad As’Adul Anam, menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi penyelenggaraan haji 2027, Embarkasi Bandara Dhoho diperkirakan akan melayani sekitar 10.548 jemaah dari wilayah eks Karesidenan Kediri dan Madiun, termasuk usulan penambahan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro.
“Penambahan Kabupaten Jombang dan Kabupaten Bojonegoro didasarkan pada pertimbangan jarak tempuh yang lebih dekat menuju Bandara Internasional Dhoho dibandingkan Embarkasi Surabaya. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan jemaah sekaligus mendukung pemerataan layanan embarkasi haji di Jawa Timur,” ujar Anam.
Pembahasan ini menjadi bagian dari komitmen Kemenhaj untuk menyiapkan penyelenggaraan ibadah haji 2027 sejak dini. Melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, otoritas kebandarudaraan, dan seluruh pemangku kepentingan, Kemenhaj berharap setiap kebijakan yang dihasilkan mampu menghadirkan layanan haji yang semakin efektif, efisien, serta berorientasi pada kenyamanan dan kemaslahatan jemaah.
Menyikapi hal itu, Pemerintah Kabupaten Kediri mulai mematangkan berbagai persiapan agar Bandara Internasional Dhoho benar-benar dapat beroperasi sebagai embarkasi haji pada tahun 2027.
Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa mewakili Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana usai menghadiri rapat koordinasi, mengatakan, saat ini Pemkab Kediri mulai menyiapkan
sejumlah infrastruktur dan fasilitas guna menunjang pelayanan jemaah, secara bertahap.
Dijelaskannya Mbak Dewi, sapaan akrab Wakil Bupati Kediri itu, rapat tersebut membahas kesiapan teknis maupun operasional embarkasi haji, mulai dari kesiapan bandara, akses transportasi, sumber daya manusia, hingga skema penerbangan serta mitigasi risiko pelayanan jemaah.
“Dalam pembahasan itu, Bandara Internasional Dhoho disebut sebagai salah satu opsi embarkasi haji bagi sekitar 10 hingga 12 kabupaten/kota di kawasan Mataraman,”kata Mbak Dewi.
Menurut Mbak Dewi, Pemkab Kediri terus menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk akses jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, hingga konektivitas tol menuju Bandara Dhoho yang ditargetkan rampung pada akhir 2026 ini.
“Dalam jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Kediri juga menyiapkan lahan seluas 65 hektare yang berada sekitar satu kilometer dari Bandara Dhoho untuk mendukung pengembangan fasilitas pelayanan haji,” ujarnya.
Selain akses transportasi, lanjut Mbak Dewi, layanan kesehatan di sekitar kawasan bandara juga mulai dipersiapkan guna menunjang pelayanan calon jemaah haji. Dukungan akomodasi pun, menurut Mbak Dewi lagi, dinilai cukup memadai, dengan sekitar 10 hotel di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri yang memiliki total kapasitas 748 kamar. (wk-1)..

