Mengenal Lebih Dekat Padepokan Semar di Mrican, Kediri.
Kota Kediri (wartakediri.com) – Bicara Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, orang pasti langsung ingat Pabrik Gula Mrican (biasa disebut PG Meritjan). Pabrik Gula (PG) Meritjan sendiri didirikan pada tahun 1903 oleh Nederland Indiche Landbow Maatschappy (NILM).
Siapa sangka ternyata disebelah barat PG Mrican berdiri sebuah padepokan yang bernama Padepokan Semar. Padepokan Semar merupakan sebuah wadah budaya yang di bentuk oleh Haji Widodo Abdul Aziz yang akrab disapa Pak Wid.
Padepokan ini hadir sebagai ruang untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur budaya Jawa kepada masyarakat, khususnya kepada generasi muda.
Keberadaannya menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni, tetapi juga melalui pendidikan karakter, kebersamaan, dan penguatan identitas budaya bangsa.
Mengambil nama Semar, tokoh pewayangan yang dikenal sebagai simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, kejujuran, dan pengayom masyarakat, padepokan ini mengemban semangat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Semar bukan sekadar tokoh dalam cerita wayang, melainkan lambang kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya kerendahan hati, persatuan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai pusat kegiatan budaya, Padepokan Semar menjadi tempat berkumpulnya para seniman, budayawan, pemerhati budaya, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian warisan leluhur, Terutama di wilayah Kelurahan Mrican.
Berbagai aktivitas diskusi budaya, ngopi bareng,hingga kegiatan sosial dan edukatif menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.
Keberadaan Padepokan Semar juga selaras dengan semangat masyarakat Kelurahan Mrican yang terus menjaga tradisi dan budaya lokal melalui berbagai kegiatan seperti kirab budaya, dan sedekah bumi sebagai bentuk pelestarian warisan budaya serta penguatan kebersamaan warga.
Melalui Padepokan Semar, diharapkan budaya Jawa tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan yang terus tumbuh, berkembang, dan menginspirasi generasi masa kini maupun masa depan.
Dengan semangat gotong royong, kebersamaan, dan cinta budaya, Padepokan Semar menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga jati diri bangsa melalui pelestarian seni dan budaya yang adiluhung. (Satria).

