DaerahHumanioraPemerintahan

Sinergi Lintas Sektor: Santri dan Relawan Dibekali Keterampilan Kebencanaan di Kediri

​Kediri (wartakediri.com) – Ancaman bencana hidrometeorologi dan ekologis menuntut kesiapsiagaan dari berbagai elemen masyarakat, tak terkecuali lingkungan pondok pesantren. 

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. An’im Falachuddin Mahrus (Gus An’im), menekankan pentingnya keterlibatan aktif para santri dan relawan dalam penanggulangan dan mitigasi bencana.

​Gus An’im menyampaikan bahwa bencana merupakan peristiwa tak terduga yang membutuhkan respons cepat dan tepat. Oleh karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi keterampilan mendasar yang dimiliki santri.

​”(Relawan) dan santri perlu dibekali ilmu penanganan darurat, seperti cara menyelamatkan diri keluar bangunan, melindungi diri di bawah meja jika tidak sempat keluar, serta tata cara evakuasi korban,” ujar Gus An’im, diacara Sosialisasi Relawan dan Santri Peduli Bencana di Ruang Tegowangi, Kantor Penkab Kediri, Senin (19/10/2026).

​Ia menambahkan, meski keterampilan teknis dan kesiapsiagaan fisik mutlak diperlukan, kekuatan doa serta kepedulian sosial khas pesantren tetap menjadi pijakan utama.

​Pada kesempatan yang sama, Direktur Logistik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bambang Surya Putra, mengingatkan bahwa maraknya bencana di berbagai daerah tidak lepas dari dampak pengelolaan sumber daya alam yang belum ramah lingkungan.

Bambang menegaskan pentingnya langkah-langkah pembekalan teknis dan kesiapsiagaan bencana melalui pelibatan para santri sebagai kader kerelawanan.

​Bambang Surya Putra, menyampaikan bahwa kolaborasi dan pertemuan bersama para relawan dan santri ini merupakan awal dari serangkaian langkah lanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

​”Inisiasi ini kita lakukan dengan berkumpul bersama para (relawan) dan santri. Tentunya harus ada langkah-langkah lanjutan, apakah kemudian kita akan melakukan pembekalan berkaitan dengan kesiapsiagaan dan hal-hal yang sifatnya lebih teknis lagi untuk memberi bekal terkait kerelawanan,” ujar Bambang.

​Bambang menjelaskan bahwa potensi dan ancaman bencana di Indonesia cukup beragam serta memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi. Oleh karena itu, penyiapan kader-kader relawan menjadi hal yang krusial untuk membantu upaya penyelamatan saat situasi darurat.

​Ia memberikan gambaran mengenai kompleksitas bencana yang kerap terjadi, seperti erupsi gunung api yang berpotensi berbarengan dengan curah hujan tinggi sehingga memicu terjadinya banjir lahar panas.

​”Penyelamatannya menjadi sedemikian kompleks. Ada gunung api, ada banjir, bagaimana apabila saat erupsi terjadi curah hujan tinggi sehingga menjadi lahar panas. Ini menjadi kompleksitas yang tinggi, untuk itu kita perlu menyiapkan persiapan-persiapan,” jelasnya.

“​Melalui pembekalan kesiapsiagaan ini, diharapkan para santri dan relawan dapat menjadi garda terdepan dan kader yang tangguh dalam mendukung aksi kemanusiaan serta penanganan darurat bencana di daerah masing-masing,”tutup Bambang Surya Putra.

​Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Ariyanto, menyampaikan apresiasi atas perhatian dari KH. An’im Falachuddin Mahrus, anggota DPR RI dan BNPB dalam memperkuat kesiapsiagaan di wilayahnya, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

​Ariyanto menjelaskan bahwa Kabupaten Kediri memiliki karakteristik geografis yang tergolong rawan bencana. Potensi risiko meliputi ancaman erupsi Gunung Kelud, tanah longsor di kawasan perkebunan Ngancar, hingga potensi angin kencang dan kekeringan saat musim kemarau.

​”Gunung Kelud merupakan gunung api aktif yang pernah meletus dan memberi pelajaran berharga. Sedangkan di sebelah barat Sungai Brantas, Gunung Wilis memberi banyak berkah, namun anak-anak sungainya juga menyimpan potensi banjir saat musim hujan,” jelas Ariyanto.

​Ia menegaskan, bencana memang tidak dapat dicegah secara mutlak, tetapi dampaknya bisa diminimalisir melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, dan sinergi lintas sektor. 

Saat ini, lanjut dia, BPBD Kabupaten Kediri berfokus meningkatkan kesiapan seluruh komponen masyarakat, mulai dari pemerintah, relawan, hingga keluarga besar pondok pesantren.

​”Kesiapsiagaan yang baik dapat menyelamatkan nyawa sekaligus mengurangi kerugian material,”tutup Ariyanto. (wk-1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *