Suprayitno Sulap Sampah Jadi Budidaya Maggot.
Kediri (wartakediri.com) – Berawal dari kegelisahan melihat persoalan sampah rumah tangga yang tak kunjung selesai, Suprayitno, warga Dusun Mulyoasri Desa Bogokidul Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, memilih mencari solusi dari lingkungan rumahnya sendiri.
Alih-alih membiarkan sampah berakhir di tempat pembuangan, pria yang tinggal di RT 003 RW 002 tersebut mulai merintis budidaya maggot di ruang kecil di belakang rumahnya.
Ruangan berukuran sekitar 3×5 meter itu kini disulap menjadi tempat pengembangan maggot. Di dalamnya, Suprayitno membudidayakan maggot mulai dari telur, larva, hingga siap dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Budidaya tersebut terbilang sederhana. Berbagai peralatan yang digunakan justru berasal dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai.
Salah satunya galon bekas air minum kemasan berukuran 15 liter. Wadah tersebut dimanfaatkan untuk tempat perkembangan maggot dari ukuran kecil hingga dewasa.
Bagi Suprayitno, memanfaatkan barang bekas sekaligus mengolah sampah menjadi bagian penting dari budidaya yang baru dirintisnya tersebut.
“Jadi saya bikin maggot ini terinspirasi dengan sampah-sampah itu. Sampah itu masalah nasional yang selama ini belum bisa diselesaikan,” ujar Suprayitno saat ditemui dikediamannya, Jumat (25/9/2026) siang pukul 12.00 WIB.
Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai sebenarnya masih dapat diolah dan memiliki nilai ekonomi. Karena itu, ia mencoba mengubah sampah organik menjadi sumber pakan melalui budidaya maggot.
“Ini adalah uang sebenarnya. Sampah itu adalah uang. Selama ini cuma dibuang, kita bikin maggot,” katanya.
Untuk pakan maggot, Suprayitno memanfaatkan sampah basah, seperti sisa buah, sayuran, hingga limbah makanan. Bahkan, ia memperoleh tambahan bahan pakan dari sisa makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari salah satu dapur di sekitar rumahnya.
“Jadi sampah basah itu apapun, sampah buah, sayur, termasuk limbah-limbah makanan itu bisa,” jelasnya.
Pemanfaatan limbah makanan tersebut membuat budidaya maggot yang dijalankan Suprayitno tidak membutuhkan biaya besar. Ia cukup memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mendukung proses perkembangbiakan.
Menurut Suprayitno, proses budidaya maggot juga relatif mudah dan tidak membutuhkan banyak waktu. Dari proses awal hingga maggot siap dipanen, waktu yang dibutuhkan maksimal sekitar 15 hari.
“Ini sangat mudah, tidak menyita waktu. Sampingan itu sudah luar biasa,” ungkapnya.
Meski baru berjalan kurang dari satu bulan, budidaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Suprayitno bahkan mengaku sudah mendapatkan pesanan maggot dari sejumlah pihak.
Kebutuhan maggot, menurut dia, sebenarnya cukup besar. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui potensi budidaya tersebut maupun manfaat maggot sebagai sumber pakan ternak.
Untuk saat ini, maggot yang dihasilkan dibanderol sekitar rp 10 ribu per kilogram. Selain dijual, Suprayitno juga memiliki rencana memanfaatkan hasil budidayanya sendiri untuk mendukung usaha ternak ikan dan ayam.
“Nanti kita kebetulan di sini ada ikan, kita mau ternak ayam. Kita bikin makanannya dulu. Kalau makanan ini sudah siap dari maggot, sudah hemat. Sebenarnya ini bisa jadi ekosistem berjalan,” tuturnya.
Ia berharap budidaya tersebut tidak hanya berhenti sebagai usaha pribadi. Suprayitno membuka kesempatan bagi warga sekitar yang ingin belajar mengembangkan maggot dan siap memberikan pendampingan.
Menurutnya, budidaya maggot bisa dilakukan di rumah dengan memanfaatkan lahan yang terbatas. Bahkan, anggapan bahwa maggot menjijikkan justru dinilainya dapat menjadi peluang bagi masyarakat yang mau belajar dan menekuninya.
“Siapapun yang mau bisa belajar, kita siap mendampingi,” katanya.
Selain menghasilkan nilai ekonomi, Suprayitno melihat budidaya maggot sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu mengurangi volume sampah rumah tangga.
Di sisi lain, jika masyarakat bisa membudidayakan di rumah, nantinya sampah yang keluar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya sampah residu saja.
“Artinya kita bisa putus rantai sampah dari akarnya,” bebernya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mau melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi bahan yang masih bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai.
“Yang plastik disisihkan untuk dijual. Jadi di situ, mengolah limbah itu hasilnya tinggi sebenarnya,” tandasnya. (wk-1).

