Seolah Kembali ke 17 Agustus 1945: Ndalem Pojok Kediri Hidupkan Kembali Suasana Proklamasi Bung Karno
Kediri (wartakediri.com) – Bagaimana rasanya berdiri di tengah kerumunan rakyat yang sedang menanti sebuah peristiwa yang akan mengubah sejarah bangsa? Pertanyaan itu seolah menemukan jawabannya di Situs Persada Soekarno Rumah Masa Kecil Presiden Soekarno Ndalem Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Senin (17/8/2026).
Dalam memperingati Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-81, masyarakat yang hadir tidak hanya mengikuti upacara. Mereka diajak merasakan kembali suasana Proklamasi 17 Agustus 1945 melalui sebuah prosesi kebangsaan yang dikemas secara semi-teatrikal.
Tepat pukul 10.00 WIB, suasana halaman situs yang dikenal sebagai rumah masa kecil Bung Karno itu berubah. Peserta mengenakan busana bernuansa era 1940-an. Tidak ada formasi baris-berbaris yang terlalu kaku. Mereka berdiri berdekatan, membentuk suasana seperti masyarakat yang berkumpul menantikan sebuah kabar besar bagi masa depan bangsanya.
Sebuah pidato pengantar sebelum pembacaan Proklamasi disampaikan, dilanjutkan pembacaan Teks Proklamasi dan pidato setelahnya. Naskah-naskah tersebut dihadirkan berdasarkan materi pidato Bung Karno yang berkaitan dengan momentum Proklamasi 17 Agustus 1945.
Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut terasa berbeda dari upacara peringatan yang biasa mereka ikuti.
“Melalui pidato pengantar, suasana tempo dulu, dan konsep semi-teatrikal ini, saya seperti diajak merasakan kembali suasana 81 tahun lalu. Ada rasa takut, cemas, khawatir, tetapi juga ada sukacita dan rasa syukur yang luar biasa,” ungkap Janyandari, salah seorang peserta.
Peserta lainnya, Indah Winarti, bahkan tidak mampu menahan air mata. “Saya sampai menangis. Hati saya bergetar. Rasanya seperti berada dalam suasana yang berbeda. Saya lihat di samping saya juga ada yang menangis,” tuturnya.
Ketua Harian Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok Kediri, R.M. Kushartono, mengatakan konsep tersebut tidak dimaksudkan sekadar sebagai pertunjukan teatrikal. Menurutnya, pendekatan tersebut digunakan sebagai media untuk membantu masyarakat memahami suasana batin yang menyertai lahirnya Proklamasi.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa tanggal 17 Agustus 1945 terjadi Proklamasi. Kami ingin mengajak mereka membayangkan bagaimana suasana rakyat ketika itu—ada ketegangan, kecemasan, harapan, keberanian, dan akhirnya rasa syukur yang luar biasa, treatikal menjelang detik-detik Proklamasi oleh Mas Yustiono anggota Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri sungguh” ujarnya.
Selama ini masyarakat lebih sering mengenal Proklamasi melalui pembacaan teks yang sangat singkat.Padahal konteks pidato sebelum dan sesudah pembacaan Proklamasi dapat membantu masyarakat memahami bahwa kemerdekaan tidak lahir secara tiba-tiba.
“Pidato pengantar menjadi jembatan untuk memahami perjuangan dan suasana batin para pendiri bangsa. Karena itu kami mencoba menghadirkannya kembali dalam suasana yang sederhana,” tambah Hendro Widjanarko mantan Guru Sejarah SMP di Pare Kediri yang memerankan Soekarno.
Peringatan tersebut diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang. Petani, pedagang, pelajar, mahasiswa, guru, seniman, budayawan, serta masyarakat umum hadir bersama-sama.Keragaman peserta tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa kemerdekaan bukan milik satu kelompok, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia.
“Bagi kami, sejarah bukan hanya untuk dikenang. Sejarah harus menjadi pengalaman batin yang melahirkan kesadaran. Ketika kita mengingat perjuangan para pendiri bangsa, kita seharusnya semakin menghargai kemerdekaan dan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaganya,” ujar Jatmikowati peserta yang lain.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan besok hari Selasa, 18 Agustus 2026, dengan Syukuran Hari Konstitusi dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketua Panitia Tasyakkuran Kemerdekaan Bangsa dan Berdirinya NKRI, R.M. Suhardono, S.E., menjelaskan bahwa rangkaian 17 dan 18 Agustus sengaja disusun sebagai satu kesatuan.
“Kalau 17 Agustus mengingatkan kita pada Proklamasi Kemerdekaan, maka 18 Agustus merupakan momentum penting dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia. Pada tanggal tersebut PPKI mengesahkan UUD 1945 serta menetapkan Presiden dan Wakil Presiden. Tanggal 18 Agustus kita usukan sebagai Hari Berdirinya NKRI,” jelas Suhardono.
Kegiatan 18 Agustus akan diisi dengan kirab budaya Nusantara, santunan anak yatim dan fakir miskin, doa bersama lintas agama, sarasehan kebangsaan, serta selamatan/tasyakkuran.
Panitia juga telah menyampaikan permohonan doa restu dan dukungan kepada Presiden Republik Indonesia serta sejumlah pimpinan lembaga negara dan unsur pemerintahan daerah. Bagi penyelenggara, dua hari tersebut bukan sekadar rangkaian seremoni tahunan.
17 Agustus adalah momentum untuk mengingat lahirnya kemerdekaan bangsa. Sementara 18 Agustus menjadi momentum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, keduanya dipertemukan dalam satu pesan: kemerdekaan harus disyukuri, berdirinya NKRI harus dipahami, dan jati diri bangsa harus terus dijaga. (wk-1).

